Setelah
melampiaskan hasratku, aku bangun dan duduk menghadap meja belajarku. Sembari
menghabiskan sedikit demi sedikit sisa nasi goring mawut peda di depanku, aku
merenungi diri sendiri. Pertanyaan besar tentang siapa aku.
Siapa
aku?
Sedikit
rasa senang sekaligus perasaan sangat malu menggerayangi dadaku. Sedikit
senang, karena aku mampu menjalin satu persatu mozaik diriku yang
terpencar-pencar. Sangat malu, karena aku baru melakukannya di usia yang hampir
menginjak dua puluh tahun, dan dalam keadaan sehabis melakukan itu.
Merangkai
kembali, membuat semuanya, tentang diriku, menjadi masuk akal, sekaligus aneh.
Aku
mendapati diriku telah berubah drastic, dari SMP hingga SMA. Perubahan yang
terjadi tidak searah, namun beralianan., bahkan bertentangan. Seakan-aan ada
sebagian diriku yang dijebol dan ditambal, dirombak dan dibangun, atau sekedar
dicat ulang.