Minggu, 01 November 2015

Lelaki Yang Menjadi Dewasa



Setelah melampiaskan hasratku, aku bangun dan duduk menghadap meja belajarku. Sembari menghabiskan sedikit demi sedikit sisa nasi goring mawut peda di depanku, aku merenungi diri sendiri. Pertanyaan besar tentang siapa aku.

Siapa aku?

Sedikit rasa senang sekaligus perasaan sangat malu menggerayangi dadaku. Sedikit senang, karena aku mampu menjalin satu persatu mozaik diriku yang terpencar-pencar. Sangat malu, karena aku baru melakukannya di usia yang hampir menginjak dua puluh tahun, dan dalam keadaan sehabis melakukan itu.
Merangkai kembali, membuat semuanya, tentang diriku, menjadi masuk akal, sekaligus aneh.
Aku mendapati diriku telah berubah drastic, dari SMP hingga SMA. Perubahan yang terjadi tidak searah, namun beralianan., bahkan bertentangan. Seakan-aan ada sebagian diriku yang dijebol dan ditambal, dirombak dan dibangun, atau sekedar dicat ulang.

Segelas Anggur



Aku bertemu sekelompok kecil remaja itu di Swalayan dekat perumahan saat hendak membeli pulsa token listrik. Mereka terdiri dari lima orang, tiga laki-laki dan dua perempuan berjilbab. Tampaknya mereka hendak berangkat mendaki gunung, karena masing-masing mengenakan jaket gunung dan celana mendaki, serta salah seorang dari mereka memanggul tas carrier. Pandanganku tak lepas dari mereka, hingga suara kasir perempuan mengembalikan kesadaranku. Saat aku keluar, aku masih mendapati mereka di tempat parkir, bersiap dengan tiga sepeda motor, dengan dua perempuan itu membonceng di dua teman laki-lakinya, sementara yang membawa tas carrier mengendara sendirian. Saat mereka menghilang, aku kembali ke sepeda motorku. Mamaku masih di sana, bermain dengan handphonenya.
            “ Adek gak dibolehkan naik gunung kan, ya?”
            “ Gak boleh!” Jawab mamaku cepat. Sepertinya Mama sudah menyadari bahwa aku memandangi anak-anak muda itu di tempat parkir swalayan.
            “ Kamu itu.. sudah…” Aku tidak dengar lagi lanjutan omelannya. Aku memang tidak serius dengan kata-kataku. Tidak terbesit dalam benakku untuk benar-benar naik gunung, karena itu aku memilih mengabaikan semua ocehan Mama karena tidak berguna juga mendengar sesuatu yang kita sudah tahu dengan cara yang tidak menyenangkan. Aku hanya mendesah. Bukan karena larangan naik gunung, namun karena kebimbanganku. Aku sama sekalu tidak mengerti apa yang bisa dan harus kulakukan. Aku mendapati diriku benar-benar letih. Rasanya ingin berbaring, tenggelam dalam belaian kasur busa milikku dan menghilang dalam kegelapan. Aku ingin terbangung dan mendapati diriku di tepi pantai yang sunyi, hanya ditemani deburan ombak berbuih-buih putih serta angin yang bertiup kencang di bawah kelembutan sorot rembulan di atas kepalaku. Aku ingin merasakan hangat dan nyamannya berbaring di atas pasir pantai yang halus, merasakan kesunyian yang penuh damai, dan rasa lapang berhadapan dengan horizon tak terbatas yang ditawarkan oleh lautan pekat nan anggun.
            Lalu aku bertemu denganmu, di sana, di tepi pantai yang sama, duduk dengan lutut terlipat, di sebelahku. Aku memandangimu. Wajahmu. Kulit putih bersih dengan hidung mancung itu, bibir tipis yang tersenyum manis, serta sepasang mata jernih dan polos, persis saat terakhir kali aku melihatnya. Rambut hitam sebahu mu berkibar ditiup angin darat di tengah malam gelap. Helai-helai itu menyapu lembut pipi kananmu.

Berakhir di Muara



Seperti biasa, aku tidak bisa berpikir usai melampiaskan birahiku. Aku duduk terpekur menatap langit-langit kamar. Kosong. Putih. Namun, dikepalaku seperti penuh dengan bintang-bintang. Sebongkah perasaan tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan bergejolak dari dadaku. Mendesak bagai lava yang siap keluar dari mulut gunung berapi. Perlahan, perasaan itu naik ke kepalaku. Memenuhi ubun-ubunku. Menghambat aliran darah dan oksigen, menciptakan pening  yang ganjil. Rasanya seperti ada sebuah tangan raksasa yang menarik ujung nyawaku dari kepala, menariknya keluar sedikit, dan memainkanku bak boneka kayu dengan benang.
Dalam setiap dosa, tersimpan dambaan untuk terlahir kembali, begitu yang ditulis oleh Shusaku Endo dalam karyanya Scandal, dan dia benar. Aku menghela nafas panjang dan berat. Seluruh persendianku seperti meleleh. Aku bahkan tidak bisa meggerakkan kedua lenganku sangking lemasnya. Kucoba  memejamkan mata, melupakan semua kejadian ini, melupakan kenistaanku sendiri.
            Selalu begini.

AYAH



Aku tidak pernah bisa dekat dengan ayah. Entah sejak kapan dimulai, tapi kurasa sudah cukup lama aku mendapatkan perasaaan tidak nyaman setiap kali dekat dengan ayah. Saat aku bangun tidur, keluar dari kamar, dan mendapati ayahku di ruang keluarga sedang mononton tv, aku selalu merasa jemu, bahkan sedikit jengah melihat raut wajahnya. Entah kenapa.

Seperti hari ini, Minggu, 31 Oktober, aku terbangun karena silau dan hawa panas yang menyengat. Kesiangan lagi. Aku menatap langit-langit kamarku sejenak. Kupandangi dengan khidmad seakan tergambar lukisan perempuan cantik di sana. Sejurus, sebuah suara yang kukenal terdengar. Suara ayahku.
Ha,,,, ternyata minggu ini juga tidak masuk, desahku. Sudah tiga minggu terakhir ini, ayah tidak lagi berangkat ke kantor setiap sabtu. Proyek tangki sudah selesai dan barang sudah dikirimkan, katanya. Ayah tidak perlu bekerja lembur dan tambahan di hari Sabtu. Padahal aku sudah sangat terbiasa dengan ketidaberadaan ayah. Akhirnya, aku memilih menenggelamkan diri dalam bekapan bantal-guling. Aku benar-benar malas bertatap muka dengannya.

Sebegitu bencikah aku dengan ayahku sendiri? Entahlah. Setelah diingat-ingat lagi, sikapku terhadap ayah mulai berubah semenjak aku tahu kenyataan bahwa ayah hanyalah seorang laki-laki lembek tidak berguna. Kejam? Iya, tentu saja. Hanya anak tak bermoral yang menyebut orang tuanya sendiri tidak berguna. Tapi lebih dari itu, aku tidak bisa menahan pemikiranku ini. Semuanya tampak jelas dan neyata di depanku, betapa tidak bergunanya ayah. Kejadian runtut yang terus menerus pada akhirnya menjelma menjadi alur yang menggiringku serupa kerbau dungu menuju sebuah bukit, dan di balik bukit itu, yang kutemukan hanyalah bangkai-bangkai busuk yang menebar bau dan pemandangan memuakkan.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Melaikat Maut yang Lapar

Wajah-wajah runtuh di tepi kelabu
Samar mereka menghantui malamku
Siapa mereka?
Aku tak tahu
Mungkin mereka cuma malaikat kematian
yang sudah kelaparan mencabut nyawaku

Mungkin mereka jengkel,
mendengarku yang plin-plan
merengek kematian saat fajar menjelang
dan memelas kesempatan saat malam tiba
Mere jengkel karena harus terbang dunia-akhirat
Hingga memilih meunggu di sampingku, di luar jendela kamarku.

Waktu memilih membeku
Saat tengah malam, di tengah bulan bergairah
Kubuka tirai jendela kamar
Kusapa mereka yang lelah menunggu,
kutawari mereka minuman
dan sekedar jajanan kecil

"kami hanya ingin nyawamu segera lulus dari raga"
Begitu ujar mereka.
Begitupun diriku, jawabku ramah.
Andai kau bisa bernegoisasi dengan Tuhan
bisakah kau minta ia cabut nyawaku sekarang

Untuk apa bernyawa,
bila pada akhirnya mencari kesempurnaan
sebuah identitas, dan sebuah surga

Untuk apa menjadi manusia,
apabila engkau berusaha berbuat baik untuk kaya
berusaha baik untuk disenangi

Cabutlah nyawaku sekarang,
aku ingin melamar jadi malaikat

Sebuah Tempat Di Mana Langit Memiliki Tujuh Warna

Kuikuti langkahnya. Lelaki cerewet yang bahkan tak kutahu namanya atau kukenal latar belakangnya. Aku bertemu dengannya di dimensi ketiga, dunia di mana langit memiliki tiga warna yang hadir pada waktu yang sama. Orang-orang menyebut dunia ini dengan sebutan, Trina . Semakin  jauh kuikuti langkah setapak lelaki itu, aku semakin sadar, aku sudah jatuh cinta padanya.


Jatuh cinta. Aku. Heh, tidak dapat dipercaya. Aku dilahirkan oleh sesuatu yang disebut Tuhan sebagai makhluk modern dengan alat kelamin laki-laki. Sejak lahir aku adalah seseorang yang oleh sesuatu disebut takdir sebagai laki-laki. Pria. Cowok. Makhluk berdada rata, berjakun, berbahu tegap, dengan janggut, kumis, dan bulu-bulu yang tumbuh sembarangan di sekujur tubuh.  Namun, semenjak aku datang ke dunia ini, aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta pada sesosok makhuk yang berjenis kelamin sama denganku.

Benarkah?

Selasa, 27 Oktober 2015

Halo semua... :)

Entah kalian peduli atau tidak, tapi bagi yang merasa janggal dengan tatanan blog ini aku minta maaf, karena itu memang unsur kesengajaan.Aku memulai halaman pertama blog ini dengan sebuah puisi sederhana yang kebetulan aku tulis selepas ujian tengah semester di fakultasku. Alasannya... tidak ada. Mungkin itu cuma sebuah residual error yang memang tidak bisa diprediksikan ataupun dikenali.

Oke, dalam tulisan ini, sebenarnya hanylah sebuah perkenalan sederhana yang kurasa cukup untuk merepresentasikan blog yang juga sederhana ini. Aku adalah Raga, bukan nama asliku, namun juga bukan nama palsu. Lebih tepatnya Raga adalah bagian dari namaku, yang banyak orang tidak begitu tahu, sehingga mereka mengira Raga itu bukan namaku, selain orang-orang administrasi publik yang memang berkemptingan mengetahui nama lengkapku.

Blog ini dimulai dengan landasan sederhana, yaitu sebagai wadah kejujuran.

Sulit merancang sebuah keunikan dalam blog ku sendiri, karena itu kubiarkan semua mengalir apa adanya, dengan segala kejujurannya.

Baik, sekian sampai di sini, semoga kalian masih berkenan membaca tulisan-tulisan selanjutnya
;))