Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Februari 2016

5574 kilometer

Serupa wajah dan sealun melodi
Dalam ritme nostalgi, tubuhnya menari
Bersama nada dari dimensi yang terlupakan, ia menyeretku
Jauh.
Jauh pada imaji 5574 kilometer

Dia, yang mengenakan rok kain selutut
kemeja tipis putih bercorak bunga,
dengan rambut hitam lurus sebahu
dan senyum kelopak sakura yang mekar segar
Di depannya, aku jatuh berdebam bumi

Lihatlah,
Seorang penakut yang biasa terpekur di sudut
Aku, yang kini berlutut di hadapannya
di bawah bulir putih salju lembut menerpa
di bawah sorot purnama dan lampu taman remang
Lihatlah,
Aku, yang kini terpaku pada sepasang matanya.

Demi pantai dan ombak yang saling merindu
Sungguh cepat hati berpasrah pada tatap lembut itu
Dari langit yang mencampakkan,
Segenap semesta membawaku padanya

Aku tak ingin pulang,
Aku tak ingin terjaga.
Biarkan aku bermimpi, dan tenggelam di dalamnya
Biarkan aku membeku dalam malam bersalju ini,
bersama momen ini.

Jangan seret aku pulang,
menuju kenyataan 5574 km di Samudra Hindia

Kamis, 07 Januari 2016

Gadis Yang Memotong Jariku

Siapakah penulis tanpa penanya?
Tanpa lembar kertas atau pembaca dan pendengar puisinya

Namun, tanpa jari, bisakah Sang Penulis mengukir Mahabharata?

Dalam benakku, itu tanyaku.
Dalam pikirku, itu raguku.
Dimana, dan siapa?
Dirimu, lima tahun lalu,
Kelambu tipis berwarna biru langit
Telaga dengan kabut pekat di subuh menggigil

Itulah cinta terakhir kuingat
4 maret, aku melangkah pergi

Namun kenapa, rantai dari pelabuhan kecil itu masih mengikatku
Karatnya kuat meremas tanganku
dan kau menariknya kuat,
memotong jemariku, dan menyeretnya jauh ke dasar telaga
Tahukah kau, bahwa aku masih menangis?
Tahukah kau, yang mengambil jari-jemariku?
Gadis bermata telaga

Senin, 21 Desember 2015

Puisi Tengah Malam

Bulan yang terbenam, tersembuyi pada alang-alang
Butiran putih serpihan cahaya yang hancur berantakan
Kemanakah akan bersemayam?

Serupa ide-ide yang tertidur dalam kepala : abstrak
kata-kata tidak pernah mau berkompromi
seperti dasi-dasi yang mencekik mati,

Malam yang sepi, gelap, merintih
Dimensi waktu di mana semua menjadi satu
Puisi yang berantakanpun, menyepi dalam satu kuil

Dupa-dupa dalam kuil,
menyembah Ganesha..
Seekor elang putih yang menyembah

Rabu, 04 November 2015

Dari Penjaga Cahaya

Anak kecil berlarian di savana
Bertelanjang raga tanpa sungkan
Benar-benar indah
Hingga rasa iri membuncah di dada

Suara anak kecil berkelakar
Tanpa peduli matahari membakar
Sekujur tubuh terpanggang
Hanya barisan gigi yang tampak terang berhias bersama senyumnya

Sepasang anak kecil,
perempuan dan laki-laki
Bergulingan di atas tanah becek
Bekas siraman penjual es lilin
Berpeluh tanah, mereka tak hirau

Kenapa?
Kenapa kita bisa kehilangan itu semua?

Mereka dengan tubuh kecilnya
Mencerna dunia dengan kepolosan
Hitam putih dan kuning biru

Ibu mereka berlari mengejar
Melarang noda di pakaian mereka
alasan logis untuk menghemat sabun cuci di rumah

Anak kecil yang bermain dengan senja
Membuat kenangan dalam keletihan hari
Memaknai warna jingga dengan berlari
Mereka, anak-anak langit.
Cahaya esok hari

Senin, 02 November 2015

Zawsze in Love

Bukit kecil di padang rumput itu
Di sana, aku berlari
Turun di lembah, menuju rumah merpati
saat semilir angin lembut meniup putik-putik musim kemarau
Higga tiba saat mendarat di peraduan

Benar, seperti salam terakhir dari lembayung kala itu
Saat dirimu letih, dan butuh manjaanku
sedikit belai di pipi kananmu
dengan kecupan kecil di bibir mungil itu

sepuluh tahun lalu,
benarkah waktu itu berlalu?
ragaku telah serupa dengan senja yang sama
saat kecupan itu menghangatkan
apakah dia adalah dirimu? perempuan dengan janji?

Sumpah, sumpah, dan janji...
mungkin aku harus kembali
membuka album lapuk di sudut remang
mencari potongan dirimu
untuk merangkainya dengan masa kini

dirimu, yang tetap sama.
 Janji dan masa kini
 Selalu

Minggu, 01 November 2015

Puisiku Yang Hilang



Ada halaman puisiku yang hilang
Sobek dari jurnal kulit coklat muda
Meninggalkan sisa sobekan di ujung atas jilidan jurnal
Hilang, entah bagaimana

Puisiku yang hilang
Entah apa isinya
Tersobek? Atau disobek?
Olehku? Atau seseorang?
Puisi yang tak dapat kuingat, namun meninggakan sisa di jurnal

Aku lupa, atau melupakan.
Entahlah. Aku ingin ingat. Aku menolak lupa pada puisiku
Namun, puisi itu tetap hilang, tetap terlupa.

Mungkin puisi itu hilang karena aku berdosa
Telah menodai aksara dengan semena-mena
Karena aku telah memperkosamu, dan meninggalkanmu
Mungkin itulah, aku berdosa

Ada sobekan kecil di bawah meja yang gelap
Apakah itu dosaku?
Atau orang lain?
Sungguh sulit merupa dosa, apalagi pahala
Mungkin nerakapun terlalu tinggi buatku
Bagaimana jika kubuang saja sobekan kecil itu
Dengan tanganku, lalu kutiup jauh dengan nafasku
Bagaimana jika aku kembali duduk,
Dan menulis puisi yang lebih bagus
Satu lagi puisi yang mungkin terlupa

Labirin



Seperti tiap malam, merenungi detik yang lambat
Memandang cermin, aku berjengit
Wajahku tampak lain.
Berbeda. Saat siang, saat malam.
Aku memandang cermin,

Siapa aku?

Setiap malam, menikmati senyap
Kuhirup udara mengisi otak yang kumuh
Sembari duduk bersila membelakangi rembulan
Aku meraba-raba, mencari cahaya
Ada di mana aku?

Di sudut kamarku, bertumpuk buku-buku
Karl marx, Amartya Sen, John, Shusanku Endo,
Eiji yoshikawa, Haruki Murakami
Beragam nama, beragam judul, beragam kisah
Satu pencarian

Hidup

Manusia mencari Tuhan,
Sedangkan Tuhan tidak pernah sembunyi
Lalu apa yang kucari?
Hidup. Bingung. Tersesat. Mencari.
Aku menutup mukaku,

Mau kemana aku?

Imaji



Kau berada di antara tiga arus
Kota fantasi dan realita
Dengan sudut-sudut kesenangan semalam
Dan tiang-tiang lampu temaram nan remang

Aku adalah sudut kecil di debu khatulistiwa yang gersang
Dunia di mana tujuh warna langit menjadi panggung sepiku
Dari sini, aku melihatmu.
Memujamu,

Aku berlari, berhenti, dan berlari
Bermimpi tentang momen pertamaku
yang terhapus halus oleh hujan lembut di mendung yang perih

Nyatakah hari itu ?
Hari yang selalu kau nyayikan dengan suaramu
Hari yang menjadi koma dalam hidupku.
Hari yang selalu, hanya menjadi koma.

 Hah…Bodohnya aku
Hari sudah siang, dan matahari sudah memanas di puncaknya
Bukankah sekarang saatnya berhenti?

Meski, mencintaimu adalah mencintai seluruh duniaku.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Melaikat Maut yang Lapar

Wajah-wajah runtuh di tepi kelabu
Samar mereka menghantui malamku
Siapa mereka?
Aku tak tahu
Mungkin mereka cuma malaikat kematian
yang sudah kelaparan mencabut nyawaku

Mungkin mereka jengkel,
mendengarku yang plin-plan
merengek kematian saat fajar menjelang
dan memelas kesempatan saat malam tiba
Mere jengkel karena harus terbang dunia-akhirat
Hingga memilih meunggu di sampingku, di luar jendela kamarku.

Waktu memilih membeku
Saat tengah malam, di tengah bulan bergairah
Kubuka tirai jendela kamar
Kusapa mereka yang lelah menunggu,
kutawari mereka minuman
dan sekedar jajanan kecil

"kami hanya ingin nyawamu segera lulus dari raga"
Begitu ujar mereka.
Begitupun diriku, jawabku ramah.
Andai kau bisa bernegoisasi dengan Tuhan
bisakah kau minta ia cabut nyawaku sekarang

Untuk apa bernyawa,
bila pada akhirnya mencari kesempurnaan
sebuah identitas, dan sebuah surga

Untuk apa menjadi manusia,
apabila engkau berusaha berbuat baik untuk kaya
berusaha baik untuk disenangi

Cabutlah nyawaku sekarang,
aku ingin melamar jadi malaikat

Jumat, 23 Oktober 2015

Mengingat. Bagian satu

Aku sudah kehilangan diri
Makna, nafsu, dan candu pada hidup
Begitupun pada mati,
Seiring dengan senja yang menua,
kuhela nafas
Sakit.
Hampa.
Sakit yang begitu hampa.
Seperti sore ini,
aku bertanya pada Tuhan,
seakan aku percaya padanya.
Aku berbicara pada Tuhan,
seakan dia mendengarkanku
Tidak, percaya padaNya
Hanya letih aku mengabaikannya.

Di sudut meja, pojok menyepi di Yeski Cafe
di hadapan sepiring kwetiau panas dan segelas teh hangat
aku berusaha memutar sekrup kepalaku,
seperti Watanabe dalam Nowergian Wood.
Entah sampai kapan,
sekrup ini akan bertahan